Tampilkan postingan dengan label Pengajar Muda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengajar Muda. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Juli 2014

In Utero

Tak seorang pun menyerupai sekeping pulau, tiada orang yang sepenuhnya sendirian; tiap orang adalah sekeping tanah dari sebuah benua, sebagian dari yang keseluruhan. Jika sepotong semenanjung ditenggelamkan air, Eropa akan mengecil, demikian pula dengan puncak gunung atau rumah karibmu atau dirimu sendiri; kematian tiap orang mengurangi makna diriku…. - John Donne

Siang itu, saya bangun dengan kepala serasa dihantam godam setelah begadang semalaman. Malas-malasan meraih hape yang berdenting entah sudah berapa kali, samar-samar saya melihat sebaris kalimat di layar : Adit meninggal, Bhe!

Terlalu banyak orang bernama Adit yang saya temui, sehingga saya pun tak langsung ngeh bahwa yang dimaksud adalah Adit Pengajar Muda.
Sepersekian detik sebaris kalimat muncul kembali di layar: Adit yang waktu itu ikut teleconference, Bhe. Mata saya langsung nanar di hadapan layar.

Pertemuan dengan Adit teramat singkat. Bermula ketika saya diminta membantu teleconference untuk acara FGIM. Beberapa PM di penempatan mendaftar untuk berbicara dengan para peserta FGIM di Jakarta.
Di luar dugaan, dari Tanimbar nama Adit muncul. Perkiraan saya waktu itu yang akan ikut teleconference adalah temannya yang berada di daerah lebih mudah sinyal.
Selama persiapan teleconference, saya dan Adit hanya bisa berkomunikasi lewat SMS. Tes koneksi Skype bahkan baru bisa dilakukan sehari sebelum FGIM berlangsung.
Ketika FGIM berlangsung, teleconference dengan Adit tak bisa dilaksanakan karena kendala teknis. Saya kecewa, dan mungkin terlebih lagi Adit. Apalagi ia telah membawa murid dan salah seorang guru untuk ikut jadi narasumber. Tetapi ketika saya tanya lewat SMS, dengan santai dia menjawab: "Tidak apa-apa Mas. Saya paham. Sudah biasa di sini susah dihubungi karena sinyalnya susah kalau mendung."
Dia paham teleconference punya resiko gagal yang besar, namun dia tetap mempersiapkan segala sesuatunya.

Dua hal yang saya pelajari dari Adit:
Di tengah situasi kondisi serba minim, orang bisa menjadi sangat pesimis atau melankolis. Tetapi Adit memilih menghadapinya dengan optimis dan tenang.
Di tengah situasi negara yang seperti ini, orang bisa menjadi apatis atau ikut arus. Tetapi Adit memilih menjadi oang merdeka. Mengejar idealismenya mengajar hingga pelosok nusantara.

Saya tahu, menjadi PM adalah usaha mengenal Indonesia dengan berjalan lebih jauh dan menyelam lebih dalam. Namun sebaris kata siang itu menjadi penanda bahwa Adit telah jauh melangkah bukan hanya menapaki Indonesia, namun hingga ke nirwana.

Gie bilang mati muda adalah sebuah keberuntungan. Tetapi Gie salah. Yang beruntung adalah mati ketika memperjuangkan idealisme dan berani menyasar tempat yang tak pernah kita ketahui.

Saya angkat topi untuk Adit. Sebagai PM, sebagai orang Indonesia, sebagai pemberani. Dan saya tak akan menangis, tetapi bertepuk tangan…merayakan bahwa Adit pernah hidup dan berjuang bersama.

Tabik

Rabu, 04 April 2012

Cap Go Meh


Pada sebuah lukisan, tergambar sebuah perayaan yang meriah. Wajah-wajah penuh sukacita, sebagian bertopeng sebagian tidak. Kesan klasik dan berkarakter sangat kuat dari goresan kuas. Lukisan itu berjudul “Cap Go Meh”, dilukis oleh tokoh senirupa Indonesia Sudjojono di tahun 1940. Sekilas orang tak akan mengira bahwa lukisan itu menggambarkan perayaan Tionghoa. Merahnya merah tak tergambar di sana, tak ada liong, tak ada mata-mata sipit, yang ada hanya sebuah perayaan bak pasar malam para pribumi. Dari lukisan itu saya sadar bahwa perayaan Cap Go Meh bukanlah sebuah perayaan baru, bukan pula hal asing, bahkan terasa perayaan ini-sekalipun menggunakan bahasa Cina-adalah milik siapapun. Di waktu ketika Pemerintahan Kolonial mengkotakkan masyarakat berkedok cacah jiwa, Cap Go Meh menjadi perayaan bersama di mana semua orang baik mereka yang dilabeli pribumi dan Tionghoa. Pembauran telah terjadi ketika konsep-konsep multikultural dan hak asasi belum muncul.

Cap Go Meh, yang dirayakan setelah Imlek selalu memberi kesan yang mendalam buat saya. Terlebih lagi tahun ini, ketika saya bertugas sebagai Pengajar Muda di suatu daerah dengan etnis Tionghoa yang jumlahnya sangat minim. Mungkin juga karena saat ini kondisinya yang berbeda, atau mungkin juga karena saya hidup sedari kecil dekat dengan budaya Cina, sehingga terasa ada yang "kurang" tahun ini - meriahnya merah dan gegap gempitanya kembang api yang laksana bunga di langit malam. Imlek telah menjadi sebuah perayaan nasional. Sebuah pengakuan akan mereka etnis Tionghoa - sebuah entitas yang selama ini dianggap beda.

Tapi apakah sebuah perayaan seremonial bisa menunjukkan perasaan seseorang? Sepertinya kelewat absurd apabila mengakui Imlek sebagai perayaan nasional bisa menjadikan etnis Tionghoa merasa nyaman menjadi Indonesia. Saya tidak bermaksud rasis terhadap etnis Tionghoa. Yang saya tekankan bukanlah Imleknya, tetapi terlalu seringnya kita terjebak dalam fantasi acara seremonial. Pertanyaan tersebut bisa saja ditunjukkan untuk semua. Saya, kamu, kalian, bahkan mereka yang merasa “bangga” menjadi kaum pribumi.

Rasa nyaman sendiri saya akui relatif, bahkan kemunculannya adalah sebuah probabilitas. Karena saya tidak ingin menambah rumit racauan saya, maka saya menyederhanakan rasa nyaman menjadi nasionalisme, yang apabila diidentifikasi lagi adalah sebuah laku kepedulian dan keaktifan etnis Tionghoa dalam hidup berbangsa dan bernegara. Selama ini terkesan hanya segelintir orang Tionghoa yang peduli dengan situasi sosial ataupun keadaan negara. Mungkin juga mereka masih trauma karena selama Orde Baru karena “pembatasan-pembatasan” terhadap etnis ini. Yang terlihat di mata kita, etnis Tionghoa jago berdagang, maka logis apabila mereka banyak yang merajai bisnis di Indonesia. Kaya, memiliki hunian eksklusif, mobil mewah, seringkali hang out dalam kelompok sesama Tionghoa, bahkan dalam memilih sekolah, seakan tak tersentuh oleh “pribumi”. Susah rasanya melihat anak-anak muda Tionghoa ada di kampus negeri, lantang ngomong masalah sosial di kampus ataupun tempat demo, nongkrong di angkringan. Rasa iri kemudian muncul, dan syak wasangka tumbuh bak cendawan di musim hujan. Etnis Tionghoa kemudian hanya dicap kelompok pencari keuntungan ekonomi semata, tidak membaur, nggak paham dan peduli dengan masalah sosial karena hidupnya yang eksklusif. Maka tak heran ketika kerushan Mei ’98 toko-toko milik etnis inilah yang menjadi sasaran pertama penjarahan dan penghancuran. Bahkan hingga sekarang hal ini masih berlaku.

Yang tak terlihat di mata kita, ada etnis Tionghoa yang kere, berkulit hitam karena harus mengais sesuap nasi di bawah terik matahari, suka nongkrong bareng orang-orang “pribumi”, bahkan peduli dengan lingkungan sekitar meskipun borju. Tidak percaya? Cek saja Cina Beteng dan di daerah Teluk Naga atau di sudut manapun di kota, pasti ada etnis Tionghoa-yang kaya sekalipun, yang jauh dari stereotip negatif. Yang diperlukan hanya mencari dengan teliti, dan mengenal mereka dengan hati.

Menurut saya semua manusia itu sama saja. Tanpa melihat SARA, pasti akan ditemukan orang yang baik maupun yang jahat. Begitu juga dengan etnis Tionghoa. Saya temukan banyak yang menyebalkan, tapi orang-orang Tionghoa yang baik dan peduli pun tak terhitung jumlahnya. Begitu juga saat ini, saya temukan banyak etnis Tionghoa yang sangat baik, nasionalis, dan peduli akan kondisi sosial bangsanya. Saya tak perlu sebutkan sipa mereka satu per satu. Mereka adalah teman-teman saya, rekan-rekan diskusi saya ketika kegelisahan tentang bangsa ini sudah sampai di ubun-ubun, dan guru-guru saya yang memberikan bekal mengabdi selama setahun. Mereka adalah yang kita anggap “tak tersentuh” dan berbeda. Tapi mereka punya keberanian untuk berpikir keras membangun negeri ini, bersusah-susah hidup dalam kesusahan, berjibaku dengan kondisi alam yang keras, dan membaur bersama masyarakat.

Dengan pengalaman yang hebat dan tingkat pendidikan yang tinggi, mereka bisa saja mengenyam kenikmatan dalam pekerjaan-pekerjaan mapan, ataupun duduk dalam pemerintahan. Tapi mereka memilih untuk “hanya” menjadi bagian dari Pengajar Muda. Menjadi guru di daerah terpencil, mengajarkan kejujuran dan betapa bangsa ini masih elok meskipun rapuh pada hati anak-anak di pelosok negeri. Dan ketika perayaan Imlek tak bertabur warna-warni kembang api, dan Cap Go Meh hanya diiisi oleh suara lenguh sapi dan ringkikan jangkrik, cuma kalimat So Hok Gie yang saya ingat:

“Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seseorang yang ingin mencanangkan kebenaran”



Bharata Handoko
Sori Bura, Tambora, Cap Go Meh 2012

Untuk Ibu Wei, dan teman-teman etnis Tionghoaku

Senin, 02 April 2012

Broken Arrow


Sudah beberapa hari ini surau dusun di tempatku selalu ramai sehabis Isya oleh anak-anak. Di dusun yang hanya berjumlah 40 KK ini, tanpa listrik, dan udara dingin menusuk bersama angin bergemuruh bak derap kuda-kuda liar di malam hari, berada di luar rumah sehabis Isya bagi anak-anak adalah mustahil. Siluet pohon-pohon dadap dan kelanggo menjulang tinggi bak raksasa hitam dan suara desir angin di sela-sela daun adalah horor. Orang-orang dewasa pun, lebih memilih duduk di dalam rumah mengitari lampu minyak, sebuah kehangatan dan penerangan kecil yang menentramkan jiwa-jiwa sederhana. Jikalau tidak, mereka akan berkumpul di salah satu rumah, berbagi cerita yang tak jelas ujung pangkalnya, sambil membakar tembakau harum dan menyeruput kopi yang sepekat langit malam.
Sehabis Isya, anak-anak itu duduk bersila atau bersimpuh, membentuk setengah lingkaran atau berjajar rapi. Mata-mata kecil mereka berbinar memantulkan cahaya lampu minyak bak bintang kejora.  Mulut-mulut mungil berkomat-kamit menghapalkan surat-surat pendek Al-Quran. 10 surat pendek, tak kurang tak lebih. Mengalirkan bisikan ilahi di keremangan surau yang meruang.  
Menghapal surat-surat pendek untuk mengikuti lomba MTQ tingkat desa. Bukanlah sebuah prestise semata, tapi lebih bagaimana anak-anak bisa merasakan atmosfer kompetisi yang sehat. Bersabar mengasah kemampuan membaca Al-Quran malam demi malam, berani menyuarakannya dengan sebaik mungkin di atas panggung, dan berbesar hati menerima segala hasil meski tak juara, adalah hal-hal yang lebih berharga dari kemenangan lomba dan hadiah apapun.
Menghapal bukanlah hal yang mudah. Ketika mata harus memincing melihat huruf-huruf hijaiyah bersambung di bawah cahaya temaram, ketika lidah terasa kelu berucap karena tak terbiasa. Seperti bahasa Indonesia, membaca Al-Quran adalah hal yang luar biasa bagi anak-anak itu mengingat keterbatasan akses untuk belajar. Para orang tua memang fasih membaca Al-Quran dan berbahasa Indonesia, tetapi mereka adalah jiwa-jiwa sederhana yang bahkan terlalu sederhana. Seakan mereka sudah terlalu lelah mengolah tanah-tanah padas untuk bertani sehingga tak sempat memperhatikan pendidikan anak-anaknya, dunia dan akhirat. Namun kesadaran adalah sebuah proses, bukan kejadian serta merta atau pemberian sejak lahir. Kehadiran para pendidik, lomba MTQ ini, dan dengung suara anak-anak menghapal Al-Qur’an menggetarkan hati para orang tua betapa pendidikan itu penting.
Pada malam lomba semua orang berkumpul. Setelah dua hari dirundung was-was karena hujan lebat berangin, malam itu mereka merasa lega karena bisa mengadakan MTQ tingkat desa, yang bahkan ternyata adalah MTQ tingkat desa pertama di Kecamatan Tambora. Masyarakat berbondong-bondong ingin melihat jagoannya beraksi, tak peduli harus melewati hutan gelap dan jalan licn berlumpur. Ini bukan pasar malam menurutku, tapi keceriaan orang-orang terasa seperti di pasar malam. Satu per satu peserta naik panggung, menampilkan kemampuan terbaik mereka. Tak terkecuali anak-anak. Setiap penonton menyaksikan dengan seksama seperti menonton layar tancap. Sementara temanya tampil, anak-anak lain sibuk komat kamit menghapal Al-Quran seperti merapal mantra, ataupun sekedar membaca beberapa ayat untuk meluweskan lidah yang kaku karena grogi.
Ada satu anak dusunku yang terlihat gelisah dan kesepian di tengah hiruk pikuk manusia. Bukan karena grogi, tapi seperti orang yang menanti sesuatu. Matanya menyapu seluruh sudut tempat lomba, sedikit-sedikit menoleh di antara duduknya yang tak jenak. Di sebelahnya duduk ibunya, mengusap lembut kening anak perempuanya yang sedikit menangis.  Ketika anak itu naik panggung, anak itu pun masih sempat menatap barisan penonton dengan hening sebelum membaca Al-Quran. Lidahnya kelu, nafasnya tertahan di awal-awal, seperti ragu melanjutkan lomba atau tidak. Dan ketika penampilannya selesai, anak itu turun panggung dengan menatapi anak tangga satu-satu, lesu.
Keluarga anak itu, ayah ibunya, baru saja bercerai. Pada bulan ramadhan yang seharusnya syahdu dan damai orang tuanya bertengkar. Amarah yang lepas menggetarkan dusun yang tak seberapa besar itu, dan setiap fajar menyingsing adalah sebuah episode drama tragedi. Seorang anak yang tumbuh dengan jiwa sederhana, di tempat di mana hiruk pikuk kehidupan dan lini masa seakan berhenti berjalan, harus menghadapi situasi yang kompleks di umur yang belia. Saat itu kulihat ia begitu tegar di usianya yang rapuh. Selalu tersenyum biar amarah yang mengelilinginya jua, selalu lantang bercakap denganku tanpa beban bahwa mala mengikuti. Tapi memang aku tak berhak untuk menilai perasaan manusia, apalagi seorang anak. Apa yang ada di wajahnya, di balik satu senyuman manis, bisa jadi adalah sejuta luka yang tak terperi. Ini adalah waktu ketika simpati dan empati tak cukup menyelami hati yang sudut-sudutnya adalah labirin perasaan yang menyesatkan.
Anak itu tetap duduk diam, sebuah keheningan di keramaian. Wujudnya seakan semakin surut di malam yang larut, air mata menitik yang seperti embun jatuh di malam yang salah. Esok hari, ketika matanya tak lagi sembab, ibunya bercerita kepadaku apa yang terjadi dengan anaknya semalam. Tepat ketika bayu mulai berdesir di sela-sela dedaunan, menggugurkan daun-daun berwarna kuning tanda penghabisan takdir, ucapan ibunya menambah ngelangut.
Pada malam lomba, anak itu menanti ayahnya pulang melihat ia tampil di panggung seperti ayah anak-anak lain yang mengantar menembus halimun dan menapaki kegelapan malam. Tapi di antara orang-orang itu, di antara wajah-wajah itu, tak satupun ia melihat wajah laki-laki yang ia kenal, wajah ayahnya....


Bharata Handoko
Sori Bura, Tambora, Idul Adha 2011

Untuk muridku yang pikirannya pernah mengembara ke medan Kurusetra yang berdebu

Minggu, 04 September 2011

Dogtown Stories

"Surat tetap merupakan sarana yang tak tertandingi untuk mengesankan gadis muda; huruf yang mati itu sering berpengaruh lebih kuat daripada kata yang hidup." (Kierkegaard)

Kalimat melankolis itu terus terngiang di kepala manakala menulis surat ini. Tak semua kisah harus dituliskan, tak semua harus dituturkan. Namun kiranya ada manusia-manusia yang gelisah menunggu kisah di sana yang selalau siap duduk sejenak membaca rentetan kata-kataku. Dari huruf-huruf yang mati, mungkin-karena aku tak tahu pasti, mereka merasa ada sebuah "kehidupan" yang mengalir dan kemudian membekas kuat. Aku juga bukanlah penulis yang baik, seringkali malah absurd dan carut marut. Tapi dari huruf yang mati itu......kehidupanku terucap jelas.

Picture by: Bharata Handoko
Sudah dua bulan lebih aku tinggal mengajar di Tambora. Begitu banyak kisah terpatri dalam ingatan di waktu yang singkat ini. Seakan kutemukan Isfahanku di sini. Di pagi hari nan gelap gulita kubuka mataku  lalu membasuh muka dengan air dan kemudian dingin merambat cepat ke seluruh syarafku, kemudian kubergegas mendengarkan ayat-ayat ilahiyah dilantunkan imam di sunyi sepi surau yang meruang. Di lain waktu, tubuhku bergerak bebas menggiring bola di padang rumput yang menguning sambil menghindari tai sapi dan tajamnya bayam liar - sebuah refleksi bahwa hidup itu tak mudah tapi tetap sebuah seni. Atau, sesekali berjalan tanpa alas kaki agar embun membasuh telapak kaki dan wanginya bunga kopi mekar mengiringi langkah kecilku. Dan ketika aku terbangun karena anjing melolong di malam hari, maka bulan dan langit bertahta bintang menemaniku menghabiskan malam-malamku. 
Tapi Isfahan terbesarku adalah ketika berhadapan dengan anak-anakku, murid-muridku. Malaikat-malaikat kecil bertelanjang kaki yang setiap hari berlari menuju sekolah. My barefoot little angels. Ada keringat yang menetes, urat yang menegang, namun selalau ada rasa lega dan tawa yang lepas ketika mengajar mereka. 

Picture by: Bharata Handoko
Tapi ini adalah cerita tentang hidup yang tak selalu manis. Di tengah semangat mereka, di tengah surga hutan hijau beratap langit biru yang mereka susuri setiap hari, Tambora juga bukan sebuah tempat yang ramah. Hidup adalah sebuah aliran waktu di mana kesenangan dan ujian berdampingan laiknya sepasang kekasih.
Hidup di sini terkadang tak ubahnya  kehidupan di gheto atau daerah suburban. Ekonomi yang pas-pasan, orang tua kawin cerai ,dan perilaku yang keras karena ditempa panasnya kondisi hidup,  Beberapa kali aku kehilangan murid-muridku. Satu, dua (dan semoga angka ini tak berlanjut)  siswaku harus datang dan pergi tanpa kejelasan karena orang tua mereka bercerai.  Atau, ketika pagi yang sejuk harusnya menjadi awal yang sempurna bagi hidupmu, kau melihat seorang anak menangis keras karena dipukul orang tuanya.
Tapi kawan, ah...seandainya kau ada di sini sekarang melihat anak-anak itu, di tengah kerasnya hidup mereka tetap bisa tersenyum manis dan dengan riang gembira bermain-main di serambi rumahku. Kadang aku bercakap dengan mereka, membaca dengan mereka, atau duduk diam mengamati mereka yang asyik saling berkejaran di depan mataku. Sejenak jauh dari masalah yang menimpa keluarga mereka, sejenak melupakan beban hidup yang mungkin mereka sendiri belum pahami dengan pasti. 

Dan di suatu sore hari yang disinari hangatnya matahari senja emas, ketika aku hendak rehat sejenak beberapa hari meninggalkan Tambora. Malaikat-malaikat kecil itu menghampiriku dan berkata: "Pak guru, kapan mengaji lagi? Sepi........" 



 


Tambora, 1 Syawal.........
(bharatahandoko.blogspot.com)






Minggu, 26 Juni 2011

12 Jam Perjalanan dan 1 Malam Penuh Bintang


Kita tak pernah tahu kemana kita akan melangkahkan kaki kita. Setinggi apapun cita-cita kita, sejauh apapun imaji kita melanglang buana, kita tak pernah tahu kapan dan di mana petualangan besar akan dimulai. Kita hanya memiliki kaki-kaki kecil yang setapak demi setapak menjalani kehidupan ruang dan waktu.
Begitu juga aku di sini. Di tempat yang aku tak pernah membayangkan sebelumnya. Sebuah tempat sunyi sepi jauh dari centang penerang dan klakson yang melenguh panjang bernama Tambora. Sebuah tempat di mana hanya ada bayu yang mendesir dan tanah sabana beratap langit penuh sebaran bintang di malam hari.
Selama dua belas jam aku berguncang-guncang dari Bima menuju Kecamatan Tambora – tempatku mengajar selama setahun. Di jalan-jalan berdebu nan terjal diapit oleh Gunung Tambora di Selatan dan Laut Jawa di Utara, aku seakan tersedot perlahan-lahan menuju sebuah negeri baru. Dari keramaian kota, berlanjut ke jalanan beraspal yang menanjak, lalu perlahan memasuki pekatnya malam perkampungan di padang sabana. Dua belas jam yang pendek, namun juga terasa panjang di jalan yang seakan tak berujung.



Petualangan besarku berawal di sini. Di negaraku, di suatu tempat yang seringkali kulihat dalam peta namun seakan tanah antah berantah tak tersentuh. Petualanganku ternyata tidak dimulai di sebuah tanah bernama Amerika, tempat di mana aku menjejakkan kaki dua tahun lalu. Bukan kopi Starbucks dan sepotong muffin yang kunikamati di pagi hari, namun segelas kopi hitam pekat Tambora bercampur manisnya gula dan sepotong puncak gunung yang berwarna emas. Tak ada seribu kunang-kunang di Manhattan, tetapi langit maha luas dengan kerlip bintang-bintangnya diselingi sesekali bintang jatuh.
Setahun ke depan, bersama anak-anak yang akan kuajar, aku belajar menjadi Indonesia. Indonesia yang selama ini hanya kuketahui dari televisi, majalah, dan buku-buku pelajaran. Ribuan lembar kubaca selama bertahun-tahun tentang negeri ini, dan berjam-jam kutonton videonya, tapi aku tak pernah tahu secara pasti negeriku ini. Aku akan belajar menjadi Indonesia. Indonesia yang cantik molek dengan alamnya, Indonesia yang yang belum dipoles hedonisme dan modernisasi sehingga terlihat kumuh.
Aku teringat kala itu, seorang teman di hadapan Wakil Presiden berkata,”tempat-tempat terindah di Indonesia seringkali adalah tempat-tempat termiskin.” Entah mengapa, di saat-saat terakhir aku meninggalkan Jakarta yang seperti lautan neon, kalimat itu selalu terngiang. Bahkan, di tengah rasa sendu ketika melepas teman-teman satu pelatihan di bandara aku masih mengingatnya. Kami semua akan menuju tempat-tempat terindah di Indonesia, tapi kami juga akan mencemplungkan diri dalam keseharian penuh keterbatasan yang keras. 



Aku berfikir, apa yang dapat kuperbuat di tengah keterbatasan itu. Aku hanya anak kota yang terlanjur dibuai lama oleh kenikmatan. Apakah aku bisa bertahan di tengah padang sabana tanpa listrik dan sedikit air? Bisakah aku menamatkan petualangan besar ini? Sejak aku di bandara, dalam 12 jam terguncang-guncang di truk sapi, aku selalu berfikir. Tapi, dalam satu malam penuh bintang di Tambora, entah mengapa aku mulai yakin bahwa petualngan ini bisa kulewati. Mungkin yang kujalani nanti tak melulu berisi romansa. Mungkin aku akan terjatuh dan terperosok beberapa kali. Mungkin aku akan merasa lelah dan mengumpat di tengah jalan. Mungkin kehadiran dan karyaku di sini nanti tak semegah yang aku bayangkan. Dan ketika aku pulang, tak kan ada sambutan meriah bak seorang kstaria menang pertarungan. Tapi aku yakin bahwa aku bisa menjalani tugasku di sini, di tengah keterbatasan fasilitas namun bersama orang-orang dengan keramahan melimpah. Aku yakin aku mau mengajar dengan baik...dan anak-anak yang aku ajar nantinya yang akan mengubah tempat-tempat terindah Indonesia menjadi lebih baik. 



Sori Bura-Tambora, 22 Juni 2011

www.bharatahandoko.blogspot.com

Jumat, 24 Juni 2011

Abovo



 

Orang bilang, setiap manusia memikul takdirnya sendiri-sendiri. Begitu juga kami di sini yang berkumpul bersama berusaha mengukir sejarah kami sendiri. Sejarah yang tidak ditentukan oleh siapa yang menang dan yang kalah. Hanya kami, dari kami dan untuk kami.
Tak perlu kiranya kalian tahu kami satu persatu laiknya sebuah abovo kisah-kisah ksatria zaman dahulu. Meski kami datang dari tempat yang berbeda satu dengan yang lain, namun kami memiliki mimpi dan kemauan melangkah bersama. Kami mungkin bukanlah siapa-siapa, hanya sekumpulan pemuda biasa dengan mimpi-mimpi akan bangsa yang lebih baik.
Bisa saja kami satu di antara kalian. Orang-orang idealis yang berteriak lantang menanggapi ketidakadilan yang seringkali terjadi di negeri ini. Aktivisi-aktivis kampus yang galau akan masa depan bangsa. Atau pelahap buku-buku berat nan artistik sehingga kami menjadi bohemian muda yang naif. Bisa juga kami adalah anak-anak hedon yang suka pergi ke mall menikmati tubuh-tubuh semampai di sudut-sudutnya. Membelah malam di tengah hingar bingar musik dan remangnya lampu-lampu disko. Tapi, kami semua memiliki mimpi yang sama akan negeri ini.
Kami semua....ingin memberikan sesuatu bagi negeri ini. Selagi masih muda, selagi tenaga pikiran dan waktu memihak kami, dan selagi kesempatan ada. Dengan segala kerendahan hati kami menyebar ke seluruh pelosok negeri ini untuk mengajar bibit-bibit bangsa. Dengan segala kerendahan hati.....kami hanya bisa mengajar mereka membaca, menulis, dan berhitung, serta berbagai cerita tentang betapa luasnya dunia ini.
Kami tinggalkan gemerlap metropolitan dan parade knalpot yang tiada habisnya. Segala kemapanan dan kenyamanan yang telah mendarah daging di tubuh kami tinggalkan untuk menyesap sedikit rasa kehidupan yang lain. Rasa kehidupan di luar sana, di tengah keheningan panjang malam hari, di tengah gelap tiadanya listrik, dan terjalnya jalan-jalan berbatu.
Kami capai, kami marah, dan kami muak.....pada semua yang ketimpangan yang ada di negeri ini. Kami curahkan semuanya lewat demonstrasi, orasi, tulisan di media, blog, celotehan di jejaraing sosial, hingga obrolan di warung kopi (atau bahkan ketika kami mengigau..). But we choose to stop cursing the darkness, and start lighting the candle. Dengan segala kerendahan hati.....kami memilih menyalakan lilin dengan mengajar, karena hanya itu yang kami mampu.
Tak usahlah bercakap tentang nasionalisme, karena nasionalisme hanyalah benturan nafsi-nafsi. Kami pun sadar bahwa kami bukanlah superhero dengan aksi megalomaniak. Kami juga bukan obat bagi barisan sakit hati yang merasa ditelantarkan negara di luar sana. Kami hanya pemuda biasa yang berbagi mimpi yang sama. Mimpi bahwa Indonesia bisa menjadi lebih baik. Dan untuk itu, kami berjalan bersama-sama melalui sebuah gerakan-mengajar bibit-bibit penerus bangsa yang tersebar di pelosok negeri. Kami yang berkulit putih ataupun sawo matang, bermata lebar ataupun yang bemata sipit, yang berambut ikal dan yang lurus, berambut hitam atau pirang, hidung mancung maupun pesek, tinggi maupun pendek, serta semua perbedaan fisik yang selalu menjadi pemisah kita selama ini.  Kami berbagi mimpi, melangkah bersama, selagi muda. Mimpi akan bangsa yang lebih baik, yang sejatinya mimpi akan diri kami sendiri di masa depan.......
Bogor, 1 Mei 2011

www.bharatahandoko.blogspot.com