Itu ada seorang gadis
Aku kenali pertama di tengah hiruk pikuk manusia
Di saat warna-warni lampu sabtu malam terasa begitu syahdu
Dan motor-motor berparade lamat-lamat di tengah nafas muda-mudi yang dimabuk cinta
Dua…tiga menit….waktu menipuku
Terasa lama namun juga cepat merambati otak
Kubercakap dengan dia, diselingi jemari memainkan sumpit mie…
Tang…ting…tek..tek….
Duduk berseberangan dalam sebuah kedai
Di pinggir jalan yang bising parade kanlpot dan klakson
Tapi tetap saja hanya seperti aku dan dia
Gadis manis…
Mata hitam…rambut hitam
Binar mata di bawah sinar lampu
Ini bius pikirku….laiknya morfhin menari-nari di pembuluh darah
Dan aku terkapar tak berdaya hahahah!!!
Sial benar pikirku….
Satu pertemuan….dua kali jantungku berdegup kencang
Sehari…dua berselang..hingga seminggu
Aku bagai orang bodoh di tengah lautan manusia
Alamakjang! Apa kata dunia?!
Berucap tak ada daya, menatap tiada bisa, bernyali pun tiada punya
(Mie Toyong, Sagan, 2007)
Sabtu, 19 Juni 2010
Minggu, 23 Mei 2010
Sulitnya Bahsa Indonesia
Semalam saya dikirimi teman sebuah e-book berjudul Nasionalisme karya Panji-Indonesia Unite. E-book lama memang, dan saya sudah membaca sekali. Namun, entah mengapa tulisan tersebut selalu menarik dan menggugah untuk dibaca kembali. Bahasa yang simpel, santai, penuh humor, namun tetap sarat makna dan mengena.
Intinya, dalam e-book tersebut, Panji mengajak kita untuk lebih optimis memandang bangsa Indonesia. Jangan keburu bilang benci Indonesia, sebelum kita tahu betul apa yg Indonesia miliki. Setelah khatam halaman terakhir, saya serasa tergerak kembali untuk mencari berbagai sumber tentang kekayaan Indonesia. Ini salah satunya saya temukan di Majalah Tempo edisi April yang berjudul "SULITNYA BAHASA INDONESIA", cekidot:
Intinya, dalam e-book tersebut, Panji mengajak kita untuk lebih optimis memandang bangsa Indonesia. Jangan keburu bilang benci Indonesia, sebelum kita tahu betul apa yg Indonesia miliki. Setelah khatam halaman terakhir, saya serasa tergerak kembali untuk mencari berbagai sumber tentang kekayaan Indonesia. Ini salah satunya saya temukan di Majalah Tempo edisi April yang berjudul "SULITNYA BAHASA INDONESIA", cekidot:
- Agus R. Sarjono*
Setiap orang asing yang pernah tinggal di Indonesia dengan cepat akan dapat bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Di Bonn, Jerman, para mahasiswa semester awal di jurusan bahasa Indonesia selalu bikin cemburu mahasiswa jurusan bahasa Cina, Arab, dan Jepang. Sebab, saat mereka masih terbata, para mahasiswa jurusan bahasa Indonesia sudah mulai pandai bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Namun, begitu mereka lulus dan makin memperdalam bahasa Indonesia, tahulah mereka betapa peliknya bahasa ini.
Untuk mengenal situasi mutakhir di Indonesia, Berthold Damshauser, dosen kawakan bahasa Indonesia di Universitas Bonn, membagikan kliping teks wawancara tokoh terkemuka Indonesia. Ia tercengang melihat nyaris tak satu pun mahasiswanya mampu memahami teks itu.
Ada dua kesulitan, ternyata. Pertama, mereka kesulitan memahami kalimat-kalimat sang tokoh yang kerap kehilangan subyek atau predikat, diselingi ungkapan daerah dan ungkapan asing. Ini masih ditambah dengan logika kalimat yang sulit ditangkap serta pernyataan-pernyataan yang bersifat umum. Mengungkapkan sesuatu dengan taksa (clear and distinct) memang bukan kelaziman bagi para tokoh Indonesia.
Saya yang nasionalis Pancasilais dengan tegas menolak untuk membahasnya. Jika kita akui bahwa para tokoh pun tidak mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, apa alasan para mahasiswa dan sarjana asing untuk belajar bahasa Indonesia? Maka segera saya larikan kesulitan itu pada persoalan kedua, yakni sistem bahasa Indonesia yang pada dasarnya cukup berbeda dari bahasa-bahasa Eropa.
Salah satu perbedaan dasar adalah masalah penanda waktu. Bahasa-bahasa Eropa-Inggris, Jerman, dan Belanda, misalnya-memiliki penanda waktu yang jelas sehingga dari bentuk kalimatnya segera dapat diketahui apakah sesuatu terjadi pada masa lampau, masa kini, atau masa depan. Bahkan, dapat segera diketahui pula apakah kegiatan itu sedang terjadi, telah terjadi, akan terjadi, sedang terjadi tapi belum selesai, telah terjadi tapi masih terus berlanjut, dan sebagainya. Pada bahasa Indonesia, semua itu tidak segera dapat diketahui. Jika ada kalimat: "Agenda utama pemerintah adalah memberantas korupsi", tidak segera menjadi jelas apakah memberantas korupsi itu sedang dijalankan dan sudah beres, sedang dijalankan dan masih terus berproses, akan segera dijalankan di masa depan, atau bahkan masih rencana belaka yang sama sekali belum diketahui kapan akan dilaksanakan.
Apakah dengan demikian bahasa Indonesia tidak lengkap dan gawat dibanding bahasa lain, tentu saja tidak dapat disimpulkan segegabah itu. Sebuah bahasa selalu saja lahir, mencerminkan, dan bahkan kompatibel dengan budaya yang melahirkannya. Budaya Indonesia sejak berabad lalu memandang waktu sebagai sesuatu yang sirkuler, dengan masa silam, masa kini, dan masa depan masih (dianggap) bersatu. Pengenalan masyarakat Indonesia atas waktu nonsirkuler baru dimulai dengan masuknya Islam ke Indonesia yang membagi hari dalam lima waktu ibadat. Karena masuknya Islam ke Indonesia disambut hangat dalam haribaan mistik yang berakar kokoh di masyarakat, waktu nonsirkuler itu pun lebur dalam jagat waktu sirkuler. Tradisi Kristiani yang datang kemudian serta memiliki perspektif waktu nonsirkuler juga hanya memberikan dampak tipis dalam mengubah perspektif atas waktu pada masyarakat karena ia pun dilebur pula dalam tradisi mistik di masyarakat.
Masalah lain yang membuat orang asing pusing dalam belajar bahasa Indonesia adalah urusan imbuhan. Kesaktian imbuhan dalam bahasa Indonesia demikian luar biasa sehingga ia dapat mengubah makna kata hingga batas tak terduga. Membicarakan pembicaraan dan cara berbicara para pembicara dalam urusan imbuhan memerlukan pembicaraan tersendiri agar dapat terbicarakan dengan baik.
Alhasil, para mahasiswa Jerman jurusan bahasa Arab, Cina, atau Jepang yang pada semester pertama wajahnya pucat, setelah lulus, wajah mereka mulai berseri-seri. Sementara itu, wajah mahasiswa jurusan bahasa Indonesia yang berseri-seri di semester awal, begitu lulus, segera menjadi pucat. Kepucatan ini kian bertambah seiring makin dalamnya mereka mempelajari bahasa Indonesia.
"Nah, tahu rasa kalian," demikian bisik hati saya. Jangan remehkan bahasa Indonesia, man! Negara-negara Arab boleh saja kaya, negara Jepang boleh saja makmur dan canggih berteknologi, negara RRC boleh saja sukses memberantas korupsi dan tumbuh menjadi raksasa yang membanjiri dunia dengan barang-barang murahnya; tapi maaf, sejauh menyangkut bahasa, bahasa Indonesialah yang paling sulit dipelajari.
Saya pun meninggalkan mahasiswa Jerman dengan kebanggaan luar biasa. Saya tidak bisa berbahasa Arab, Jepang, atau Cina. Meskipun bahasa-bahasa itu mudah dipelajari, saya belum berniat mempelajarinya. Jika kita sudah menguasai bahasa yang rumit seperti bahasa Indonesia, bahasa lain tidak menjadi prioritas utama.
*) Penyair
Jumat, 14 Mei 2010
Mengingat Kembali Menjadi Mahasiswa Gaek
Sore-sore gak sengaja nongkrong sama temen di kampus. Gak tahu kenapa, lapangan Sansiro Sospol kayaknya pewe buanget buat nongkrong. Adem, angin senja sepoi-sepoi, plus cewek2 komunikasi yang berbadan padat dibalut pakaian ketat sliwar-sliwer hehehehe……Mak nyusshhhh!!!!
Ngobrol ngalor-ngidul, dari mbahas dugem, politik, cewek, sampai ya ujung-ujungnya ada yang mbahas film lunyu juga (ini udah kodrat cowok gak bisa lepas dari yang saru-saru tur wagu). Tapi yang paling penting dari obrolan itu , coba tebak, apalgi kalo bukan masalah skripsi hohoho. Maklum, yang ngobrol mahasiswa tingkat lanjut semua (kalo gak mau disebut angkatan tuwir, bahkan ada yang udah bulukan). Skripsi-skripsi, tugas nulis yang gampang-gampang susah. Gampang ngerjainnya, karena banyak waktu luang. Susahnya adalah, karena banyak waktu luang itu godaan duniawi makin merajalela. Apalagi sondrom pasca KKN yang bikin mahaiswa suka keluyuran gak jelas.
Trus abis skripsi dan wisuda mo ke mana? Ada yang bilang mo sekolah S2, kerja, dan yang jawab gak tahu pun banyak, bahkan banyak jawaban konyol gak jelas seperti kenaikan harga BBm yang gak jelas juntrungannya ( Oy!!!…. kok ngaitin BBm si? makin gak jelas juga nih tulisannya!). Tapi yang pasti, suara mayoritas, dari lubuk hati yang terdalam, bakalan jawab gak tahu mo ngapain. Kayak air ngalir aja, masih terlalu jauh memikirkan masa depan yang ini itu. Lebih baik jalani yang ada sekarang dulu, masa depan dipikirkan pelan-pelan. Yang terpenting adalah memeprsiapkan diri dan mental.
Ngomongin mental soalnya secara gak sengaja, kita-kita ngeliat temen yang kayaknya udah keburu pengin lulus (soalnya skripsinya dah jalan gitu), tapi kalo ngeliat perawakan dan tingkah lakunya masih kanak-kanak banget. Maunya die-emong mulu kayak balita, padahal habis lulus kan kita langsung ngadepin realita yang segitu hebatnya. Persaingan dan pertarungan jalanan sejati, yang kuat dan berkemampuan yang menang, yang masih gak bisa menghadapi hidup secara dewasa boleh menyingkir atau terkapar. Kalo udah lulus dan wisuda, siap gak sih kita menghadapi hidup? Kan udah gak mahasiswa lagi yang selalu beridealisme, tapi kita jadi nya masuk angkatan kerja yang mau-gak mau harus kompromi ma sistem. Kuat gak ya ngadepin hidup dengan dua tangan dan kaki kita sendiri.
Akhirnya, daripada mumet mikirin masa depan yang dekat dengan diri kita tapi rasanya jauh mengawang, kami semua nutup nongkrong sore dengan makan bakso heheheheh dan nyruput rokok…Mak nyuuussshhhh!!!!
Ngobrol ngalor-ngidul, dari mbahas dugem, politik, cewek, sampai ya ujung-ujungnya ada yang mbahas film lunyu juga (ini udah kodrat cowok gak bisa lepas dari yang saru-saru tur wagu). Tapi yang paling penting dari obrolan itu , coba tebak, apalgi kalo bukan masalah skripsi hohoho. Maklum, yang ngobrol mahasiswa tingkat lanjut semua (kalo gak mau disebut angkatan tuwir, bahkan ada yang udah bulukan). Skripsi-skripsi, tugas nulis yang gampang-gampang susah. Gampang ngerjainnya, karena banyak waktu luang. Susahnya adalah, karena banyak waktu luang itu godaan duniawi makin merajalela. Apalagi sondrom pasca KKN yang bikin mahaiswa suka keluyuran gak jelas.
Trus abis skripsi dan wisuda mo ke mana? Ada yang bilang mo sekolah S2, kerja, dan yang jawab gak tahu pun banyak, bahkan banyak jawaban konyol gak jelas seperti kenaikan harga BBm yang gak jelas juntrungannya ( Oy!!!…. kok ngaitin BBm si? makin gak jelas juga nih tulisannya!). Tapi yang pasti, suara mayoritas, dari lubuk hati yang terdalam, bakalan jawab gak tahu mo ngapain. Kayak air ngalir aja, masih terlalu jauh memikirkan masa depan yang ini itu. Lebih baik jalani yang ada sekarang dulu, masa depan dipikirkan pelan-pelan. Yang terpenting adalah memeprsiapkan diri dan mental.
Ngomongin mental soalnya secara gak sengaja, kita-kita ngeliat temen yang kayaknya udah keburu pengin lulus (soalnya skripsinya dah jalan gitu), tapi kalo ngeliat perawakan dan tingkah lakunya masih kanak-kanak banget. Maunya die-emong mulu kayak balita, padahal habis lulus kan kita langsung ngadepin realita yang segitu hebatnya. Persaingan dan pertarungan jalanan sejati, yang kuat dan berkemampuan yang menang, yang masih gak bisa menghadapi hidup secara dewasa boleh menyingkir atau terkapar. Kalo udah lulus dan wisuda, siap gak sih kita menghadapi hidup? Kan udah gak mahasiswa lagi yang selalu beridealisme, tapi kita jadi nya masuk angkatan kerja yang mau-gak mau harus kompromi ma sistem. Kuat gak ya ngadepin hidup dengan dua tangan dan kaki kita sendiri.
Akhirnya, daripada mumet mikirin masa depan yang dekat dengan diri kita tapi rasanya jauh mengawang, kami semua nutup nongkrong sore dengan makan bakso heheheheh dan nyruput rokok…Mak nyuuussshhhh!!!!
Renungan Malam Selikuran
Tiada niat untuk mengetik, sekilas pikirku tidak berada di sini. Pikiranku sedang melayang jauh di cakrawala imajinasi lain. Sama sekali tak tersalurkan pada jemari yang menunggu untuk berjingkat dan menari-nari di atas kibor. Tapi, toh, akhirnya kumulai juga menulis huruf demi huruf, kata demi kata, dan kalimat demi kalimat.
Perasaan kemudian serasa menjuah-juah, di tengah himpitan kepenatan di penghujung ujian semester.
Tinggal menunggu Kuasa Illahi, maka terjadilah yang seharusnya terjadi! Itulah selalu pikirku yang menyusup cepat dalam tubuh manakala ujian telah selesai. Ketuntasan yang terasa belum tuntas, karena aku masih harus berjuang dengan dada membusung dan berusaha berlapang dada jikalau nilai-nilai yang kudapat melenceng dari harapan.
Apakah hidup harus seperti ini, selalu? Berjuang, berusaha lari sekuat tenaga mengejar impian, mengorbankan sesuatu demi suatu yang lain yang nampak tak pasti adanya. di saat lelah, tubuh tersungkur di lumpur-lumpur, lalu jiwa merintih di tengah hingar-bingar dunia. Di malam hari, kita kemudian bersimpuh di bawah cahaya yang temaram memnadikan tubuh yang letih. Lalu tangan memanjatkan doa pada Sang Kuasa, bergundah gulana dan memohon secuil ketenangan. Semuanya retoris, klise, dan pergerakkan dinamis manusia yang sekiranya satagnan menurutku. Lebih terasa seperti candu . Marx bekata agama itu candu, tapi buatku kehidupan pun sebenarnya candu yang terpaksa kita sesap dan setubuhi.
Untuk apa kita berusaha? Untuk apa kita mengejar segala sesuatu keindahan yang membuat kita nyalang dan menjadi pejal? Untuk kita sendirikah, atau untuk sesuatu yang kau ciptakan sendiri? Sesuatu yang kau ciptakan dari imaji agar kau tetap bersemangat berlari di jalanan kehidupan. Sebuah alasan, seseorang, atau apapun itu.
Perasaan kemudian serasa menjuah-juah, di tengah himpitan kepenatan di penghujung ujian semester.
Tinggal menunggu Kuasa Illahi, maka terjadilah yang seharusnya terjadi! Itulah selalu pikirku yang menyusup cepat dalam tubuh manakala ujian telah selesai. Ketuntasan yang terasa belum tuntas, karena aku masih harus berjuang dengan dada membusung dan berusaha berlapang dada jikalau nilai-nilai yang kudapat melenceng dari harapan.
Apakah hidup harus seperti ini, selalu? Berjuang, berusaha lari sekuat tenaga mengejar impian, mengorbankan sesuatu demi suatu yang lain yang nampak tak pasti adanya. di saat lelah, tubuh tersungkur di lumpur-lumpur, lalu jiwa merintih di tengah hingar-bingar dunia. Di malam hari, kita kemudian bersimpuh di bawah cahaya yang temaram memnadikan tubuh yang letih. Lalu tangan memanjatkan doa pada Sang Kuasa, bergundah gulana dan memohon secuil ketenangan. Semuanya retoris, klise, dan pergerakkan dinamis manusia yang sekiranya satagnan menurutku. Lebih terasa seperti candu . Marx bekata agama itu candu, tapi buatku kehidupan pun sebenarnya candu yang terpaksa kita sesap dan setubuhi.
Untuk apa kita berusaha? Untuk apa kita mengejar segala sesuatu keindahan yang membuat kita nyalang dan menjadi pejal? Untuk kita sendirikah, atau untuk sesuatu yang kau ciptakan sendiri? Sesuatu yang kau ciptakan dari imaji agar kau tetap bersemangat berlari di jalanan kehidupan. Sebuah alasan, seseorang, atau apapun itu.
Kerendahan Hati (By Taufik Ismail)
Kalau engkau tak mampu jadi beringin
yang tegak di puncak bukit
jadilah belukar, tapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau
Kalau kamu tak sanggup jadi belukar,
jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
jadilah saja jalan kecil,
tetapi jalan setapak yang
membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya…
Bukan besar kecilnya tugas
yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu…
sebaik-baiknya dari dirimu sendiri
-Kerendahan Hati, Taufik Ismail-
yang tegak di puncak bukit
jadilah belukar, tapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau
Kalau kamu tak sanggup jadi belukar,
jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
jadilah saja jalan kecil,
tetapi jalan setapak yang
membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya…
Bukan besar kecilnya tugas
yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu…
sebaik-baiknya dari dirimu sendiri
-Kerendahan Hati, Taufik Ismail-
Memoar Seorang Nomaden
Gue baru sadar kalau gue hidup pindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Setiap tempat menyimpan cerita, warna, bau tanah, dan perasaan yang berbeda-beda. Setiap tempat yang merupakan hasil kerja manusia, seperti manusia itu sendiri, punya takdirnya masing-masing. Gue gak bakalan bisa nemuin satu momen yang benar-benar persis sama di dua kota yang berbeda, impossible!!
Kalau lu jadi gue, lu bakal ngerasain senangnya petualangan pindah rumah di tempat baru, ketemu orang baru, bahasa, budaya, semua hal yang sama sekali berbeda dari diri lu sendiri. Tapi lu juga bakal ngerasa kehilangan yang dalem. Temen-temen lu yang ditinggal buru-buru tanpa bisa ngucapin "selamat tinggal", tempat makan yang lu senangi, semak-semak pohon tempat lu menghabiskan permainan masa kecil, bahkan...mungkin.....cinta
yang gak bisa lu ungkapin karena lu keburu pergi. Lu bisa pindah berkali-kali, kemanapun yang lu sukai, mencoba sesuatu yang baru dan menantang ke tempat-tempat paling ekstrim full pacu adrenalin di dalamnya. Lu bisa datang dan pergi. Tapi momen-momen, dan tempat-tempat yang menggores hati dengan tinta emas gak bakal bisa lu hapus gitu aja. Sebesar apapun lu pengin keliling jagad raya buat nemuin hal-hal baru, suatu saat lu bakal merasa hilang arah dan feeling lonely karena hal-hal yang berbau masa lalu yang lu tinggalkan.
Lu berpetualang terus, dimanapun dan kapanpun. Tapi suatu saat, suatu saat lu gak sengaja sadar diri kalau lu tuh harus stay di suatu tempat buat menghabiskan detik hidup yang terakhir, berbagi dengan orang-orang sekitar untuk yang terakhir kalinya, dan menghirup udara untuk terakhir kalinya. Saat itu lu bakal merasa kangen berat sama segala sesuatu yang lu pernah jumpai dalam hidup lu yang terus berpindah, dan berharap hidup lu bisa diperpanjang sedikit buat melihat kenangan-kenangan tersebut.
Gue gak nulis ini seperti gue nulis surat wasiat kematian, gue juga lagi gak berusaha harakiri. Satu yang gue rasa adalah gue kangen hidup gue yang gue tinggalin buru-buru tanpa sempet pamitan. Manfaatin aja waktu yang ada buat menikmati segala sesuatu di mana lu tinggal, lalu simpan sebanyak-banyaknya kenangan yang paling indah, so suatu saat lu bisa dengan yakin bilang: "Hidup ini dahsyat!!"
Kalau lu jadi gue, lu bakal ngerasain senangnya petualangan pindah rumah di tempat baru, ketemu orang baru, bahasa, budaya, semua hal yang sama sekali berbeda dari diri lu sendiri. Tapi lu juga bakal ngerasa kehilangan yang dalem. Temen-temen lu yang ditinggal buru-buru tanpa bisa ngucapin "selamat tinggal", tempat makan yang lu senangi, semak-semak pohon tempat lu menghabiskan permainan masa kecil, bahkan...mungkin.....cinta
Lu berpetualang terus, dimanapun dan kapanpun. Tapi suatu saat, suatu saat lu gak sengaja sadar diri kalau lu tuh harus stay di suatu tempat buat menghabiskan detik hidup yang terakhir, berbagi dengan orang-orang sekitar untuk yang terakhir kalinya, dan menghirup udara untuk terakhir kalinya. Saat itu lu bakal merasa kangen berat sama segala sesuatu yang lu pernah jumpai dalam hidup lu yang terus berpindah, dan berharap hidup lu bisa diperpanjang sedikit buat melihat kenangan-kenangan tersebut.
Gue gak nulis ini seperti gue nulis surat wasiat kematian, gue juga lagi gak berusaha harakiri. Satu yang gue rasa adalah gue kangen hidup gue yang gue tinggalin buru-buru tanpa sempet pamitan. Manfaatin aja waktu yang ada buat menikmati segala sesuatu di mana lu tinggal, lalu simpan sebanyak-banyaknya kenangan yang paling indah, so suatu saat lu bisa dengan yakin bilang: "Hidup ini dahsyat!!"
Klise
Hari ini aku bangun dengan kepala serasa dihantam godam. Malam-malam dilewati dengan bercengkerama dengan monitor dan jari menari-nari di atas tuts-tuts kibor. Tidak ada yang kuketik, hanya mata, hati, dan pikiran yang terus nyalang melihat hidup yang hiruk pikuk. Dan pagi ini, aku bangun tanpa segelas kopi, udara Jogja yang makin panas dan terasa kisruh.
Aku hampiri tumpukan berkas-berkas tesis yang terlihat terpuruk dan lesu, berdebu, dan enggan untuk kujamah. Sudah hampir seminggu, dan pikiranku serasa sontak mati untuk mencari ide dalam menyelesaikan tesis. Kamar yang sepi, dan malam-malam sunyii serasa tak mempan membangunkan kreasi imiahku dari tidur-mati suri. Dan di sekitarku, klakson waktu dan kekhawatiran orang-orang terhadapku terus berbunyi dan memkasakau untuk segera menyelesaikan tesis. Tapi..tetap tak bisa mencambukku tuk bangun dari tidur panjangku.
Kepalaku penat, telingaku serasa bising oleh parade knalpot hidup, dan mataku berkunang-kunang oleh warna-warni harapan manusia yang semakin hari semakin norak. Kuambil nafas dalam-dalam, badan menggelosor perlahan dan tergeletak lesu di pojok gang sempit jalan takdir manusia. Aku...sedang berusaha mengumpulkan kekuatanku kembali.
Dan pagi ini kuputuskan, kumulai kreatifitasku dari sesuatu yang paling simpel untuk menulis kembali. Toh percuma saja aku berusaha melanjutkan tesisku kalau otak ini terasa buntu. Akuperlu sebuah trigger, dan kutarik pelatuk imajinasi itu perlahan-lahan sebelum menembakkan ide yang paling kompleks. Dan Blog, menjadi sebuah pelarian sementara yang seru untuk masuk dalam belantara ide dan perasaan yang menjuah-juah.
Segalanya serasa lucu buatku. Kemarin aku merasa bagai di atas angin. Terbang ke sana kemari dibawa sang bayu berkeliling jagad. Namun hari ini, aku berusaha setengah mati untuk merangkak dan memulai segalanya dari nol. Itulah hidup menurutku. Merangkan dan tegak dari satu pencapaian ke pencapaian yang lain. Di saat yang sama, aku harus berlari lebih cepat dari nafasku melawan sang kala. Karena waktu yang semakin bergerak cepat dan menyustkan hidup itu membawa perubahan-perubahan gigantik yang tak semua manusia mampu untuk menerimanya. gagal mengantisipasi perubahan, hidupku bisa game-over, dan sayangnya tak ada tombol reset atau backward di sini.
Pagi ini, aku awali hidup dengan sebuah percakapan yang menurutku mengasyikkan, heboh, dan nakal. Sarkasme ala anak muda yang suka absurd, dan pandangan hidupyang berusaha bijak ala orang tua. Ahaha..aku sadar, bahwa aku memang tidak ditakdirkan untuk melihat hidup sendiri, namun selalu saja ad teman yang bisa kuajak bicara. dan pagi itu diskusi tanpa kopi, kertas-kertas konsep, dan hitungan-hitungan matematis. Semuanya mengalir dan serasa sudah di luar kepala.
Mematakan hidup, itu kira-kira yang bisa aku simpulkan dari pembicaraan kami. Hidup berubah, diri kita berubah, dan kadang kala lebih cepat dari yang kita tahu dan bayangkan. Hidup itu sebuah jalan yang enigmatik dan selalu diawali dengan langkah kecil. Tapi ada kalanya langsung melompat jauh dari seharusnya. Meletik-letik seperti pop-corn. Tak bisa diprediksi, tapi tetap saja kita harus punya rencana toh?
Kapan dan apa yg kamu inginkan untuk kerja? Itu percakapan kami yang paling awal. Bukan latah, tapi melihat situasi sekarang, lulus kuliah dan hampir lulus. Lalu harus bertarung lagi untuk mencarai kerja. Celakanya, ekspetasi kami tentang kerja dengan penawaran lowongan tak pernah bertemu. Selalu saja neraca itu bergesek bahkan break event point pun tidak. Sehabis dapat kerjaan masih harus dihujani urusan rencna lima tahun kedepan (yah..sebut saja Repelita). Kapan mapan, punya rumah, mobil (ekspetasi terhadap hal-hal mahal yang sejatinya harganya paling murah dalam hidup). Ujung-ujungnya....klise-ka
pan nikah? Meskipun setiap orang memiliki karkteristik masing-masing, tapi aku yakin peta hidup mereka sudah digariskan secara dogmatis dan sama. Habis lulus-kerja-mapan-nikah-pu nya anak-dan bla..bla..bla...(betul-bet ul dunia robot berkedok manusia).
Ada tidak ya kesempatan untuk berpetualang dalam hidup? Adrenalin yang terus dipacu. mencoba sesuatu yang baru bahkan dari struktur dan konstruksi-konstruksi mapan yang telah ada. Cuma orang gila yang bisa begitu menurutku. Toh, setiap diri kita pasti bakal bicara: Mau petualang sampai kapan? Emang situ gak bakal tua renta dan letih lesu ya? Tar keburu kena ajal trus nyesel ente. Hahahaha....see, pertanyaan penutup percakapan pun klise.
Aku hampiri tumpukan berkas-berkas tesis yang terlihat terpuruk dan lesu, berdebu, dan enggan untuk kujamah. Sudah hampir seminggu, dan pikiranku serasa sontak mati untuk mencari ide dalam menyelesaikan tesis. Kamar yang sepi, dan malam-malam sunyii serasa tak mempan membangunkan kreasi imiahku dari tidur-mati suri. Dan di sekitarku, klakson waktu dan kekhawatiran orang-orang terhadapku terus berbunyi dan memkasakau untuk segera menyelesaikan tesis. Tapi..tetap tak bisa mencambukku tuk bangun dari tidur panjangku.
Kepalaku penat, telingaku serasa bising oleh parade knalpot hidup, dan mataku berkunang-kunang oleh warna-warni harapan manusia yang semakin hari semakin norak. Kuambil nafas dalam-dalam, badan menggelosor perlahan dan tergeletak lesu di pojok gang sempit jalan takdir manusia. Aku...sedang berusaha mengumpulkan kekuatanku kembali.
Dan pagi ini kuputuskan, kumulai kreatifitasku dari sesuatu yang paling simpel untuk menulis kembali. Toh percuma saja aku berusaha melanjutkan tesisku kalau otak ini terasa buntu. Akuperlu sebuah trigger, dan kutarik pelatuk imajinasi itu perlahan-lahan sebelum menembakkan ide yang paling kompleks. Dan Blog, menjadi sebuah pelarian sementara yang seru untuk masuk dalam belantara ide dan perasaan yang menjuah-juah.
Segalanya serasa lucu buatku. Kemarin aku merasa bagai di atas angin. Terbang ke sana kemari dibawa sang bayu berkeliling jagad. Namun hari ini, aku berusaha setengah mati untuk merangkak dan memulai segalanya dari nol. Itulah hidup menurutku. Merangkan dan tegak dari satu pencapaian ke pencapaian yang lain. Di saat yang sama, aku harus berlari lebih cepat dari nafasku melawan sang kala. Karena waktu yang semakin bergerak cepat dan menyustkan hidup itu membawa perubahan-perubahan gigantik yang tak semua manusia mampu untuk menerimanya. gagal mengantisipasi perubahan, hidupku bisa game-over, dan sayangnya tak ada tombol reset atau backward di sini.
Pagi ini, aku awali hidup dengan sebuah percakapan yang menurutku mengasyikkan, heboh, dan nakal. Sarkasme ala anak muda yang suka absurd, dan pandangan hidupyang berusaha bijak ala orang tua. Ahaha..aku sadar, bahwa aku memang tidak ditakdirkan untuk melihat hidup sendiri, namun selalu saja ad teman yang bisa kuajak bicara. dan pagi itu diskusi tanpa kopi, kertas-kertas konsep, dan hitungan-hitungan matematis. Semuanya mengalir dan serasa sudah di luar kepala.
Mematakan hidup, itu kira-kira yang bisa aku simpulkan dari pembicaraan kami. Hidup berubah, diri kita berubah, dan kadang kala lebih cepat dari yang kita tahu dan bayangkan. Hidup itu sebuah jalan yang enigmatik dan selalu diawali dengan langkah kecil. Tapi ada kalanya langsung melompat jauh dari seharusnya. Meletik-letik seperti pop-corn. Tak bisa diprediksi, tapi tetap saja kita harus punya rencana toh?
Kapan dan apa yg kamu inginkan untuk kerja? Itu percakapan kami yang paling awal. Bukan latah, tapi melihat situasi sekarang, lulus kuliah dan hampir lulus. Lalu harus bertarung lagi untuk mencarai kerja. Celakanya, ekspetasi kami tentang kerja dengan penawaran lowongan tak pernah bertemu. Selalu saja neraca itu bergesek bahkan break event point pun tidak. Sehabis dapat kerjaan masih harus dihujani urusan rencna lima tahun kedepan (yah..sebut saja Repelita). Kapan mapan, punya rumah, mobil (ekspetasi terhadap hal-hal mahal yang sejatinya harganya paling murah dalam hidup). Ujung-ujungnya....klise-ka
Ada tidak ya kesempatan untuk berpetualang dalam hidup? Adrenalin yang terus dipacu. mencoba sesuatu yang baru bahkan dari struktur dan konstruksi-konstruksi mapan yang telah ada. Cuma orang gila yang bisa begitu menurutku. Toh, setiap diri kita pasti bakal bicara: Mau petualang sampai kapan? Emang situ gak bakal tua renta dan letih lesu ya? Tar keburu kena ajal trus nyesel ente. Hahahaha....see, pertanyaan penutup percakapan pun klise.
Langganan:
Postingan (Atom)